
KH Imaduddin Utsman:
“Aku Restui Mubahalah Dengan Baalawi Ajam”
Oleh: Gus Aziz Jazuli
Dalam rentang empat tahun terakhir, jagat pemikiran Islam di Nusantara dihebohkan dengan perdebatan mendalam mengenai validitas nasab kaum Ba’alwi. Polemik ini telah bertransformasi dari sekadar diskusi sejarah menjadi pertarungan wacana yang menggabungkan metode filologi kitab klasik dengan pendekatan saintifik modern.
KH. Imaduddin Utsman Al-Bantani, selaku pimpinan Perjuangan Walisongo Indonesia, berada di garda terdepan dalam menyikapi persoalan ini. Beliau tidak hanya bersandar pada pembacaan kitab-kitab nasab klasik yang ia nilai terputus secara silsilah, tetapi juga mengintegrasikan kajian genetika (DNA) sebagai salah satu dasar utama dalam argumennya. Penggunaan data DNA ini bertujuan untuk memberikan verifikasi saintifik mengenai keberadaan garis keturunan dari jalur laki-laki yang diklaim, guna melengkapi temuan-temuan historis yang selama ini diperdebatkan.
Kini, narasi tersebut mencapai titik didih baru dengan pernyataan KH. Imaduddin: “Sekarang aku restui Mubahalah.” Langkah ini ditempuh sebagai respons atas kebuntuan dialog ilmiah. Tantangan mubahalah yang beliau ajukan menjadi instrumen spiritual bagi pihak yang mengklaim nasab untuk membuktikan klaim mereka di hadapan Tuhan, yang kini juga dihadapkan pada tantangan pembuktian melalui data saintifik (DNA).
“Jika ada sekte Ba’alwi masih mengaku sebagai cucu Nabi Muhammad SAW jalur laki-laki, maka suruh ia bermubahalah dengan kalimat: ‘Aku bersumpah demi Allah bahwa Aku dan seluruh Ba’alwi adalah cucu Nabi Muhammad SAW jalur laki-laki, jika aku dan seluruh Ba’alwi bukan cucu Nabi Muhammad SAW, maka aku dan seluruh Ba’alwi mendapat laknat Allah dan siap menjadi budak orang-orang Jawa dan seluruh Nusantara atau terusir dari Indonesia selamanya'”.
Isi sumpah yang beliau sampaikan—mencakup konsekuensi berat berupa laknat hingga pengusiran dari tanah Nusantara—menegaskan betapa seriusnya persoalan nasab ini bagi beliau. Di tengah polarisasi masyarakat, fenomena ini mencerminkan desakan akan kejujuran sejarah yang diperkuat oleh validitas data genetik di atas segala bentuk klaim kehormatan yang selama ini diyakini tanpa bukti empiris yang kuat.
Pada akhirnya, mubahalah ini adalah simbol pencarian kebenaran mutlak. Apakah kebenaran akan terungkap melalui jalur spiritual ini, ataukah akan terus menjadi perdebatan panjang yang mewarnai sejarah kontemporer kita? Waktu, bukti ilmiah, dan keteguhan prinsip yang akan menjawabnya.
8 Juli 2026











Users Today : 624
Users Yesterday : 831
This Month : 7846
This Year : 180449
Total Users : 813517
Views Today : 1010
Total views : 1876640
Who's Online : 3