KISAH SUNAN BONANG MENGENALKAN TRADISI KENDURI / SELAMETAN KE UMAT ISLAM DI NUSANTARA

KISAH SUNAN BONANG MENGENALKAN TRADISI KENDURI / SELAMETAN KE UMAT ISLAM DI NUSANTARA

Sunan Bonang lahir di Rembang pada tahun 1465 Masehi dengan nama Raden Maulana Makdum Ibrahim. Beliau adalah putra Sunan Ampel dan Nyai Ageng Manila yang berarti beliau adalah keturunan ke-24 Nabi Muhammad SAW.

KENDURI / SELAMETAN : Tradisi Islam dengan cara laki-laki berkumpul  duduk melingkar dengan makanan (tumpeng, atau yang lainnya) ditengah lingkaran peserta kenduri/selametan , didalam acara tersebut yang dibaca adalah bacaan dzikir, sholawat dan Qur’an serta doa-doa, yang kita kenal dengan bacaan TAHLILAN.

 

Kediri kala itu adalah pusat dari ajaran sesat penganut ajaran Tantrayana dari sekte Bairawa Tantra, sebuah aliran yang memuja Dewi Durga. Bairawa Tantra tidak hanya dipandang sesat menurut ajaran Islam namun oleh keyakinan masyarakat sendiri aliran ini sesat dan meresahkan.

Ajaran Bairawa Tantra mempunyai ritual yang disebut sebagai Panca Makara atau malima. Malima di sini bukan seperti yang kita kenal sekarang, namun malima menurut ajaran Bairawa Tantra adalah mamsa (daging), matsya (ikan), madya (arak), maithuna (seksual), dan mudra (semedi).

Selanjutnya penganut Bairawa Tantra baik laki-laki maupun perempuan bertelanjang membuat lingkaran yang dikenal dengan istilah Ksetra. Di tengah-tengahnya disediakan daging, ikan dan arak. Setelah makan-makan bersama mereka melakukan persetubuhan (maituna) beramai-ramai. Setelah itu mereka melakukan semedi.

Lebih mengerikan lagi jika tingkatan dari para penganut Bairawa ini telah tinggi daging yang disediakan bukan lagi daging hewan namun daging manusia, ikannya ikan sura (hiu), sedang araknya diganti dengan darah manusia.

Kedatangan Sunan Bonang ke Kediri ini dalam rangka berdakwah dan mengajarkan Islam kepada masyarakat Kediri. Tentu ritual Bairawa Tantra sangat bertentangan dengan ajaran Islam yang melarang memakan binatang untuk persembahan, melarang hubungan seks bebas, dan melarang minum-minuman keras, apalagi sampai makan daging manusia dan meminum darahnya.

Oleh karena itu Sunan Bonang membuat acara yang mirip dengan upacara Panca Makaranya Bairawa Tantra yaitu ia kumpulkan masyarakat yang pada saat itu laki-laki semua di sebuah tempat, kemudian disediakan makanan, kemudian Sunan Bonang mengajari mereka berdo’a, setelah itu mereka makan bersama.

Inilah yang akhirnya kita kenal dengan nama kenduri atau slametan. Untuk menandingi aliran Bairawa Sunan Bonang menggunakan gelar Sunan Wadat Cakrawati, karena pemimpin aliran Bairawa saat itu bergelar Cakra Iswara (Cakreswara). Sungguh sangat sempurna dakwah yang dipilih oleh Wali dari Tuban ini.

Jika dulu aliran Bairawa Tantra di Kediri pada masa Raja Airlangga yang dipendekari oleh seorang Janda dari Desa Girah yaitu Nyai Calon Arang yang menebar petaka di seluruh penjuru Kediri dapat ditaklukkan oleh Empu Barada, maka di zaman Majapahit akhir, pendeta Bairawa Cakra Iswara yang menebar Panca makara dapat ditaklukkan oleh Sunan Bonang Sang Sunan yang juga digelari Wadat Cakrawati dari Tuban dengan kendurinya.

Masyarakat ternyata pun sangat respek dengan upacara yang baru dibuat oleh Sunan Bonang ini sehingga mereka melestarikannya hingga sampai sekarang. Jadi pada hakekatnya Kenduri atau selamaten bukanlah ajaran Hindu maupun Budha, namun ini adalah hasil dari ijtihad Fiqih yang dilakukan oleh Sunan Bonang dan Sunan-sunan yang lainnya dalam rangka berdakwah kepada masyarakat Jawa pada khususnya dan masyarakat Nusantara pada umumnya.

 




Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *